Banjir di Jakarta dan Solusinya

Wednesday, February 07, 2007


Banjir adalah bukti sebuah kagagalan kolektif. Banjir merupakan bukti ketidakmampuan kolektif kita dalam memelihara, mengelola, dan melakukan konservasi lingkungan.
Banjir tahun 2007, lebih parah dan lebih luas dari banjir 2002. Banyak daerah yang pada 2002 bebas banjir, kini diterjang banjir. Jika siklus banjir lima tahunan dipercayai, banjir 2012 akan menenggelamkan sebagian Jakarta.
Dilihat dari sisi itu, banjir kali ini adalah bukti kegagalan Pemprov DKI Jakarta serta para pejabat publik di daerah sekitar Jakarta. Persolaan mendasar, termasuk kebutuhan konservasi lingkungan, tak pernah ditangani secara seksama. Gedung-gedung dan real estat yang tumbuh pesat akhir-akhir ini menjadi salah satu penyebab banjir yang melanda Jakarta saat ini. Di mana-mana berdiri pusat pertokoan, pusat perbelanjaan, mal, apartemen dan hotel. Padahal tingkat pasokan mal di Jakarta sebenarnya sudah jenuh.
Banyak program untuk mengatasi banjir dan dampaknya sekiranya sumber dananya memadai. Ide untuk membuat semacam waduk penampungan air adalah sebuah alternatif yang rasional. Sebab, adanya perbaikan saluran air dan tersedianya waduk penampungan akan sangat membantu dalam menghadapi banjir.
Penanganan bencana banjir memerlukan sebuah penataan tata ruang yang terpadu antara Jakarta dan daerah penyangga lainya. Tata ruang yang ada saat ini, hanya mempertimbangkan masalsh teknis sekadar untuk kepentingan ekonomi. Pembangunan industri, pemukiman, maupun infrastruktur yang terjadi sekarang di Ibukota sama sekali mengabaikan tata ruang yang berbasis daerah aliran sungai (DAS) dan juga tidak membuat waduk-waduk untuk mengoptimalkan resapan air hujan.

0 comments